Beranda | Artikel
Kisah Nabi Ibrahim Alaihis Salam
15 jam lalu

Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 24 Dzulqa’dah 1447 H / 11 Mei 2026 M.

Kajian Tentang Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (Muhammad), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam.” (QS. Al-Ahzab[33]: 7)

Ayat tersebut merinci lima rasul utama, yaitu Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang ditunjukkan melalui kalimat wa minka (dan dari engkau). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk meneladani kesabaran mereka:

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati (Ulul Azmi).” (QS. Al-Ahqaf[46]: 35)

Wahyu kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam merupakan bagian dari para nabi yang menerima wahyu secara langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Daud.” (QS. An-Nisa[4]: 163)

Wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berupa Al-Qur’an dan sunnah merupakan kelanjutan dari rangkaian wahyu yang telah diberikan kepada para nabi terdahulu, termasuk Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam.

Garis Keturunan Kenabian dan Al-Kitab

Keutamaan lain dari Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan garis keturunan beliau sebagai sumber munculnya para nabi dan kitab-kitab suci. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ

“Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Yakub, dan Kami jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya.” (QS. Al-Ankabut[29]: 27)

Keutamaan ini dimiliki pula oleh Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan keduanya dalam kemuliaan garis keturunan tersebut. Hal ini dijelaskan pula dalam Al-Qur’an Surah Al-Hadid ayat 26.

Khalilur Rahman: Kekasih Allah

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam menyandang gelar Khalilur Rahman, yang berarti kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedudukan khalil berada di atas derajat mahabbah (cinta biasa). Beliau adalah sosok yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam kedudukan ini, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mendapat kemuliaan yang sama sebagai khalilullah.

Gelar Khalil atau kekasih istimewa merupakan derajat kecintaan tertinggi yang hanya diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada dua orang rasul, yaitu Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mengenai Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya (khalil).” (QS. An-Nisa[4]: 125)

Lima hari sebelum wafat, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan kedudukan mulia ini dalam sebuah hadits:

إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا

“Aku berlepas diri kepada Allah jika aku memiliki seorang khalil di antara kalian, karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikanku sebagai khalil-Nya, sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil-Nya. Seandainya aku boleh mengambil seorang khalil dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil.” (HR. Muslim)

Manusia Pertama yang Diberi Pakaian di Hari Kiamat

Keutamaan lain dari Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah beliau merupakan manusia pertama yang akan diberikan pakaian oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat. Berdasarkan keterangan hadits sahih, seluruh manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا

“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari kiamat) dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak dikhitan.” (HR. Bukhari)

Beliau kemudian membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ 

“(Ingatlah) pada hari Kami menggulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al-Anbiya[21]: 104)

Setelah itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah orang pertama yang diberi pakaian di hari yang sangat dahsyat tersebut. Pada saat itu, setiap orang dalam keadaan sangat ketakutan sehingga tidak saling memperhatikan satu sama lain. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya mencari jalan keselamatan di dunia dengan mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, beribadah dengan benar, dan senantiasa membaca Al-Qur’an. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim)

Abu Difan: Bapak Para Tamu

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam juga dijuluki sebagai Abu Difan atau bapak para tamu. Beliau adalah orang pertama yang mempelopori tradisi menjamu tamu dengan sangat baik dan dermawan. Kisah kedermawanan beliau terekam dalam Al-Qur’an saat beliau menjamu tamu-tamu mulia yang ternyata adalah para malaikat. Allah Subhanahu wa Ta’ala ‘Azza wa Jalla berfirman:

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: ‘Salaaman’. Ibrahim menjawab: ‘Salaamun’.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 24-25)

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam menjawab salam dari tamu-tamu yang tidak beliau kenal sebelumnya. Dalam Al-Qur’an, beliau menyebut mereka sebagai qaumun munkarun yang berarti orang-orang asing. Sebagai bentuk kemuliaan akhlak, beliau segera pergi secara diam-diam menuju keluarganya tanpa diketahui oleh para tamu untuk menyiapkan jamuan terbaik.

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam kemudian menghidangkan seekor anak sapi yang gemuk dan dipanggang. Hal ini menunjukkan kedermawanan beliau yang luar biasa karena menyuguhkan hidangan terbaik yang beliau miliki. Tindakan ini sejalan dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)

Memuliakan tamu dilakukan dengan menyuguhkan hidangan sesuai kemampuan tanpa harus memberatkan diri atau bersikap bakhil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai cara Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam menghidangkan makanan tersebut:

فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

“Lalu dihidangkannya kepada mereka (didekatkannya kepada mereka). Ibrahim berkata: ‘Silakan Anda makan’.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 27)

Penggunaan kata qarrabahu menunjukkan bahwa beliau mendekatkan hidangan tersebut di hadapan tamunya, bukan menjauhkannya. Ini adalah adab menjamu tamu yang penuh keramahan. Namun, ketika melihat tamu-tamu tersebut tidak menyentuh hidangan, muncul rasa takut yang bersifat manusiawi (thabi’i) dalam diri beliau. Para malaikat kemudian menenangkan beliau:

قَالُوا لَا تَخَفْ ۖ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

“Mereka berkata: ‘Janganlah kamu takut’, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 28)

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam sebagai Imam Ahli Tauhid

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah imam bagi orang-orang yang mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala (Imamul Muwahhidin). Allah Subhanahu wa Ta’ala ‘Azza wa Jalla memuji integritas tauhid beliau di dalam Al-Qur’an guna membantah klaim-klaim golongan tertentu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran[3]: 67)

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam sebagai Imam Ahli Tauhid

Orang yang paling dekat dan layak bersama Nabi Ibrahim adalah mereka yang mengikuti ajaran beliau, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta orang-orang yang beriman. Hal ini menjadi bantahan bagi klaim kaum Yahudi dan Nasrani.

Sebagai Imamul Muwahhidin (pemimpin orang-orang yang bertauhid), beliau mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Al-Qur’an, Allah sebuutkan di surah An-Nahl 120-123 dan surah Maryam beliau dijuluki sebagai seorang yang jujur dan seorang nabi::

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا

“Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.” (QS. Maryam[19]: 41)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyifati Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dengan sifat waffa, yang bermakna beliau telah menunaikan seluruh perintah Allah ‘Azza wa Jalla dengan sempurna, termasuk perintah-perintah yang sangat berat.

وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ

“Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji.” (QS. An-Najm[53]: 37)

Karena ketaatan tersebut, Allah menjadikan beliau sebagai imam bagi seluruh manusia, sebagaimana firman-Nya:

قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

“Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia’.” (QS. Al-Baqarah[2]: 124)

Perjuangan Menghancurkan Kesyirikan

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah musuh nyata bagi kesyirikan. Beliau secara langsung menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya. Dakwah beliau dimulai dengan memberikan peringatan kepada ayah dan kaumnya mengenai hakikat patung-patung tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?`” (QS. Al-Anbiya[21]: 52)

Beliau kemudian bersumpah untuk melakukan tindakan terhadap berhala-berhala tersebut setelah kaumnya pergi meninggalkan tempat pemujaan. Sumpah tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an:

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُم بَعْدَ أَن تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ

“Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.” (QS. Al-Anbiya[21]: 57)

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam menghancurkan berhala-berhala itu hingga berkeping-keping, namun beliau menyisakan satu berhala yang paling besar. Beliau meletakkan kapak pada berhala besar tersebut dengan tujuan agar kaumnya kembali dan mempertanyakan hal tersebut kepada berhala yang tersisa.

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ

“Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar dari patung-patung yang ada pada mereka; agar mereka kembali (bertanya) kepadanya.” (QS. Al-Anbiya[21]: 58)

Tindakan ini merupakan strategi dakwah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam untuk menunjukkan kelemahan berhala-berhala tersebut kepada kaumnya. Seluruh rangkaian peristiwa ini membuktikan keteguhan beliau dalam menegakkan kalimat tauhid di muka bumi.

Hujjah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam terhadap Penyembah Berhala

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam menghancurkan berhala-berhala kaumnya sebagai bentuk peringatan nyata agar mereka menyadari kelemahan sesembahan tersebut. Beliau mencela kaumnya yang menyembah benda mati yang tidak memiliki kekuatan apa pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai perkataan Nabi Ibrahim:

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ أُفٍّ لَّكُمْ وَلِمَا تَعْمَلُونَ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Ibrahim berkata: ‘Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu? Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?`” (QS. Al-Anbiya[21]: 66-67)

Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan syirik adalah tindakan yang tidak masuk akal. Berhala bukanlah bagian dari ajaran Islam, karena Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam sendiri merupakan nabi yang bertugas menghancurkan praktik penyembahan berhala tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan seluruh umat Islam untuk mengikuti millah atau ajaran Nabi Ibrahim yang lurus (Hanif). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah’.” (QS. An-Nahl[16]: 123)

Penegasan serupa juga terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menunjukkan hidayah menuju jalan yang lurus:

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabbku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik’.” (QS. Al-An’am[6]: 161)

Perintah mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ini berlaku secara umum bagi seluruh umat Islam:

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ ۗ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Benarlah (apa yang difirmankan) Allah’. Maka ikutilah religi Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Ali Imran[3]: 95)

Bantahan terhadap Klaim Kebenaran Agama Lain

Hanya orang yang memperbodoh dirinya sendiri yang membenci atau menjauh dari ajaran Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih beliau di dunia dan menjamin beliau termasuk golongan orang-orang saleh di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Baqarah[2]: 130)

Ketika kaum Yahudi dan Nasrani mengajak umat Islam untuk mengikuti agama mereka agar mendapat petunjuk, Allah Subhanahu wa Ta’ala membantah klaim tersebut secara langsung:

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dan mereka berkata: ‘Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk’. Katakanlah: ‘Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia termasuk golongan orang yang mempersekutukan Allah’.” (QS. Al-Baqarah[2]: 135)

Ayat ini sekaligus membantah anggapan bahwa semua agama adalah sama. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa hidayah yang benar hanyalah melalui millah Ibrahim yang bertauhid dan berlepas diri dari kesyirikan.

Setiap muslim wajib memiliki keyakinan bahwa satu-satunya agama yang benar dan diridai di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Islam. Keyakinan ini berlandaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS. Ali Imran[3]: 19)

Konsekuensi dari hal tersebut adalah ketidakterimaan agama apa pun selain Islam di akhirat kelak. Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka amalannya tidak akan diterima dan ia akan termasuk golongan orang yang merugi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran[3]: 85)

Pernyataan bahwa hanya Islam yang benar seringkali dianggap sebagai sikap tidak toleran. Anggapan tersebut tidak benar karena umat Islam adalah orang yang paling memahami hakikat toleransi. Meyakini kebenaran akidah sendiri tidak berarti diperbolehkan memaksa orang lain untuk memeluk Islam. Tindakan memaksa, memukul, hingga melakukan pengeboman terhadap pemeluk agama lain seperti Yahudi atau Nasrani sangat dilarang dan bukan merupakan ajaran Islam. Toleransi dalam Islam dilakukan dengan tetap mempertahankan akidah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tanpa mencampuradukkannya.

Bantahan terhadap Paham Penyamarataan Agama

Pendapat yang menyatakan bahwa semua agama sama bertentangan dengan dalil Al-Qur’an dan hadits. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersumpah mengenai kewajiban beriman kepada risalah beliau bagi seluruh umat manusia:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang aku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Bukti lain bahwa agama tidaklah sama adalah tindakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengirimkan surat kepada Raja Heraklius, pembesar Romawi yang beragama Nasrani. Dalam surat tersebut, beliau menegaskan:

أَسْلِمْ تَسْلَمْ

“Masuklah Islam, niscaya engkau akan selamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila semua agama dianggap sama, maka tidak ada urgensi bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengajak Raja Heraklius memeluk Islam. Hal ini menunjukkan bahwa risalah Islam datang untuk menyempurnakan dan menggantikan syariat-syariat sebelumnya.

Analogi Mengenai Perbedaan

Secara akal, menyatakan semua agama sama merupakan kekeliruan yang nyata, sebagaimana seseorang yang tidak dapat membedakan warna. Sebagai perumpamaan, jika seluruh jemaah sepakat bahwa sebuah topi berwarna hitam, namun ada seseorang yang bersikeras menyatakan topi tersebut berwarna merah, maka pernyataan orang tersebut tidak dapat dibenarkan.

Memaksakan agar semua warna dianggap sama demi alasan toleransi adalah bentuk kebodohan terhadap realitas. Keyakinan terhadap sebuah kebenaran harus berpijak pada kenyataan yang ada. Sebagai gambaran, jika sebuah topi secara nyata berwarna hitam, maka pernyataan John yang menyebutnya merah, atau Budd yang menyebutnya hijau, jelas merupakan sebuah kesalahan. Seseorang tidak bisa membenarkan semua pendapat yang saling bertentangan tersebut hanya dengan dalih toleransi atau menganggap semua warna adalah sama.

Kekeliruan logika ini menjadi semakin nyata jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang meyakini bahwa semua warna itu sama akan menghadapi marabahaya di jalan raya. Saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, ia akan menerobosnya karena menganggap warna merah sama dengan hijau. Tindakan menerobos lampu merah tersebut dapat mengakibatkan kecelakaan fatal, tabrakan, hingga kematian.

Demikian pula dalam hal keyakinan beragama. Orang yang memiliki keyakinan bahwa semua agama adalah sama merupakan orang yang paling celaka di dunia. Ia tidak mampu lagi membedakan antara agama yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan agama yang telah mengalami perubahan (muharraf) maupun penggantian (mubaddal). 

Hakikat Toleransi dalam Islam

Keyakinan teguh bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar tidak bertentangan dengan prinsip toleransi. Umat Islam diperintahkan untuk bertoleransi tanpa harus mengorbankan aqidah atau mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Islam adalah agama yang paling memahami adab terhadap penganut keyakinan lain.

Salah satu bentuk toleransi yang diajarkan dalam Al-Qur’an adalah larangan mencela sesembahan agama lain. Hal ini bertujuan agar mereka tidak membalas dengan mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala melampaui batas tanpa pengetahuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. Al-An’am[6]: 108)

Oleh karena itu, menghormati keberadaan orang lain dengan tidak mencela tuhan-tuhan mereka adalah bagian dari toleransi Islam. Namun, hal tersebut tidak berarti mengakui kebenaran ajaran mereka. Prinsip utama yang harus dipegang teguh adalah bahwa agama yang diridai di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah Islam.

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS. Ali Imran[3]: 19)

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56240-kisah-nabi-ibrahim-alaihis-salam/